Masashi Hamauzu | Featured

Mengenal Masashi Hamauzu, Komposer seri Final Fantasy yang “Terlupakan”

Final Fantasy dan soundtrack indah adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Sejak pertama kali muncul di tahun 1987, alunan nada yang romantis serta lekat di telinga selalu mengiringi seri JRPG karya Square Enix ini. Jauh setelah kita berhenti main, musiknya tetap setia mengisi playlist dan menjadi sahabat terbaik saat kita ingin bernostalgia.

Berbicara tentang musik Final Fantasy, pikiran kita pasti langsung melayang pada nama komposernya yang melegenda, yaitu Nobuo Uematsu. Tangan dingin Uematsu-lah yang telah menghasilkan tembang-tembang evergreen seperti “One Winged Angel”, “Suteki da ne”, “Clash on the Big Bridge”, dan “Dancing Mad”.

Tapi Uematsu bukanlah satu-satunya komposer yang berkontribusi dalam seri Final Fantasy. Ada beberapa komposer lain yang karyanya tak kalah mengagumkan, bahkan mungkin tanpa kamu sadari muncul dalam game favoritmu.

Salah satunya, yang menurut saya sangat hebat namun kurang digandrungi penggemar Final Fantasy, adalah Masashi Hamauzu. Seperti apa sih kiprah Masashi Hamauzu di dunia musik video game? Apa saja karya-karyanya? Yuk, kita kenal lebih jauh!


Pemuda yang mengidolakan Final Fantasy

Dibandingkan komposer Final Fantasy lainnya, sebetulnya Masashi Hamauzu bisa dibilang termasuk yang paling junior. Ia lahir pada tahun 1971 di kota Munich, Jerman. Artinya, saat Final Fantasy pertama kali terbit, Hamauzu masih berusia 16 tahun.

Masashi Hamauzu | Photo 1
Ki-ka: Junya Nakano, Nobuo Uematsu, Masashi Hamauzu | Sumber: Final Fantasy Wiki

Hamauzu sangat suka memainkan seri Final Fantasy, dan dari kecil ia bercita-cita menjadi komposer musik game. Karena itu ia sangat gembira ketika Squaresoft menerima lamaran kerjanya. Tahun 1996 menjadi tahun debut Hamauzu bersama Squaresoft, dengan proyek pertamanya yaitu Front Mission: Gun Hazard, sebuah game side-scrolling action untuk console Super Famicom.

Sejak saat itu, Hamauzu terus berkarya dalam berbagai judul populer Squaresoft. Beberapa game yang mengandung lagu karangan Masashi Hamauzu antara lain Tobal No. 1 (PS1), Chocobo’s Dungeon (PS1), SaGa Frontier 2 (PS1), serta Final Fantasy X (PS2).


Menggantikan posisi Nobuo Uematsu

Tahun 2004 merupakan tahun yang cukup penting bagi Masashi Hamauzu. Nobuo Uematsu telah pergi meninggalkan Square Enix untuk menjadi komposer freelance. Ia meninggalkan kekosongan di posisi komposer utama Square Enix, dan Hamauzu pun maju menjadi pemimpin tim yang baru.

Karier Hamauzu di era PS2 tergolong tidak begitu mulus. Berbagai game yang ia tangani ternyata tidak diterima dengan baik di pasaran. Meski musiknya bagus, bila game itu sendiri jelek tentu akan berimbas ke popularitas komposernya juga. Padahal di era ini kualitas dan eksplorasi musik Hamauzu semakin meningkat. Coba saja kamu dengarkan lagu dari Musashi: Samurai Legend berikut.

Selain sekuel Brave Fencer Musashi di atas, karya Hamauzu juga digunakan dalam game Unlimited Saga dan Dirge of Cerberus: Final Fantasy VII. Keduanya bukan game yang disukai banyak orang, bahkan Unlimited Saga sering disebut sebagai salah satu JRPG terburuk sepanjang masa. Hamauzu juga mengaku sulit mengekspresikan dirinya pada masa-masa ini karena adanya berbagai hal yang menyulitkan.

Meski demikian, musik gubahan Hamauzu tetap mendapat pujian dari para kritikus. Ia juga berkarya di luar soundtrack game, misalnya bekerja sama dengan Yasunori Mitsuda (komposer Chrono Cross) dalam aransemen album serta menciptakan album solo berjudul Vielen Dank.


Baru nyaman sejak Final Fantasy XIII

Tahun 2006, era PS3 tiba. Square Enix menunjuk Masashi Hamauzu sebagai komposer tunggal untuk game terbaru mereka, Final Fantasy XIII. Ini adalah pertama kalinya ada judul Final Fantasy yang tidak mengandung karya Nobuo Uematsu sama sekali (spin-off tidak termasuk). Masalahnya saat itu Uematsu sudah sangat sibuk mengerjakan soundtrack untuk Final Fantasy XIV.

Penunjukan dirinya sebagai komposer utama Final Fantasy XIII sempat membuat Hamauzu kaget. Tapi ternyata dalam pengerjaannya Hamauzu merasa sangat nyaman. Mungkin karena akhirnya ia diberi kesempatan menciptakan musik yang benar-benar sesuai dengan visi dirinya.

Bekerja sama dengan tim arranger, sound designer, penyanyi, serta sejumlah besar pemain orkestra, Hamauzu memastikan agar Final Fantasy XIII punya musik yang megah, lebih megah dari semua musik Final Fantasy yang pernah ada. Benar saja, musik menjadi salah satu unsur paling mengesankan dari Final Fantasy XIII, dengan berbagai lagu ikonik seperti “Blinded by Light”, “The Promise”, dan “Saber’s Edge”.

Begitu cintanya Hamauzu dengan Final Fantasy XIII, hingga ia membentuk grup musik yang bernama IMERUAT. Kata “imeruat” dalam bahasa suku Ainu berarti “kilatan cahaya”, dan merupakan wujud apresiasinya terhadap tokoh utama Final Fantasy XIII, Lightning. Hamauzu juga merekrut Mina Sakai, vokalis keturunan Ainu yang dulu bekerja dengannya dalam soundtrack Final Fantasy XIII.


Ingin lebih bebas berkarya

Final Fantasy XIII menjadi momen besar yang melejitkan karier Masashi Hamauzu. Tapi masih ada satu masalah yang membuat dirinya merasa terkekang. Karena berstatus sebagai karyawan Square Enix, ia tidak bisa sepenuhnya memiliki hak cipta atas lagu-lagu yang ia kerjakan. Ditambah lagi, Hamauzu juga ingin bisa berkarya lebih luas, tidak hanya mengerjakan musik-musik untuk Square Enix.

Akhirnya pada tahun 2010 ia memutuskan keluar dari perusahaan. Sama seperti Nobuo Uematsu yang mendirikan Smile Please dan Hitoshi Sakimoto (komposer Final Fantasy XII) yang mendirikan Basiscape, Masashi Hamauzu mendirikan studio sendiri yang bernama Monomusik.

Masashi Hamauzu | Photo 2
Masashi Hamauzu dan Mina Sakai membentuk grup IMERUAT | Sumber: Wayo Records

Meski sudah tidak berstatus karyawan, Hamauzu masih banyak berkontribusi untuk game bikinan Square Enix sebagai komposer lepas. Ia menggubah lagu untuk Final Fantasy XIII-2, Lightning Returns: Final Fantasy, serta World of Final Fantasy. Tapi ia juga mengerjakan game di luar Square Enix, salah satunya yaitu The Alliance Alive (3DS), di mana Hamauzu bekerja sama dengan penulis seri Suikoden, Yoshitaka Murayama.


Karya-karya Hamauzu yang berkesan

Jika dibandingkan dengan komposer-komposer Square Enix lainnya, lagu-lagu Hamauzu biasanya termasuk “sulit didendangkan”. Tidak seperti Nobuo Uematsu yang gemar menonjolkan melodi romantis, atau Yasunori Mitsuda yang banyak mengambil inspirasi dari instrumen etnik akustik, gaya bermusik Hamauzu cenderung lebih ekspresif. Ia juga terkenal suka menggabungkan musik elektronik atau jazz ke dalam aransemen orkestra.

Masashi Hamauzu sampai sekarang masih terus berkarya, baik sebagai komponis musik game ataupun arranger konser. Musik gubahannya banyak menggunakan komposisi rumit yang ketika disatukan dengan adegan sebuah game, akan membangkitkan suasana dan emosi yang kuat. Berikut ini beberapa karya Masashi Hamauzu yang cukup menonjol sepanjang kariernya. Mana lagu favoritmu?

“UNLIMITED: SaGa Overture” – Unlimited Saga

“The Promise” – Final Fantasy XIII

“Feldschlacht I” – SaGa Frontier 2

“Messenger of the Dark” – Dirge of Cerberus: Final Fantasy VII

“Rainy World” – The Alliance Alive