Menjajal Coffee Talk, Game Simulasi Curhat Bikinan Toge Productions

Hai, kamu. Ya, kamu yang sedang membaca tulisan ini. Apakah kamu merasa dirundung masalah yang tak kunjung ketemu jalan keluarnya? Atau kamu butuh tempat bernaung yang tenang, agar kamu bisa bersantai di tengah sejuknya malam, jauh dari bising kota dan segala macam hiruk-pikuknya yang memuakkan?

Datang saja ke kafe saya. Letaknya di ujung jalanan paling sepi kota Seattle. Kalau kamu penduduk asli sini, kamu pasti tahu mana jalan yang saya maksud. Kamu boleh datang sendirian atau bersama kawan, asal jangan sampai buat keributan. Cokelat hangat, teh hijau kental, atau kopi hitam adalah beberapa sajian yang siap untuk kamu nikmati.

Coffee Talk | Screenshot 1

Coffee Talk | Screenshot 2

Minuman di kafe saya semua lezat, tapi hidangan terbaik saya sebetulnya bukan minuman. Menu andalan saya adalah sepasang telinga yang selalu setia mendengar. Itu yang paling sering dipesan oleh para pelanggan. Khusus menu ini, tidak bisa bayar pakai uang. Kamu hanya boleh, dan hanya bisa, bayar pakai cerita.

Seperti malam ini, misalnya, ketika kafe saya kedatangan tiga orang tamu. Salah satunya, Freya, adalah jurnalis yang bukan pertama kalinya berkunjung. Sebagian orang akan bilang dia gadis eksentrik, tapi saya sudah sering melihat yang lebih aneh. Cerita Freya, tidak jauh beda dari yang sudah-sudah, sebagian besar tentang dunia kerja, dan seringnya sih berakhir dengan saya menimpali, “Yang benar saja,” atau garuk-garuk kepala. Saya sedikit iri dengan Freya yang selalu berjiwa bebas, tapi jelas tidak iri dengan kariernya yang sering kacau karena ulah sendiri.

Coffee Talk | Screenshot 3

Coffee Talk | Screenshot 4

Minuman pesanan Freya tidak mengejutkan, triple shot espresso untuk membantunya fokus menulis. Beda dengan dua pengunjung lainnya, succubus cantik bernama Lua dan elf bernama… Bradley? Billy? Entahlah, saya sedikit lupa. Kami tidak banyak bicara walau mereka tinggal cukup lama, karena sebagian besar waktu mereka habiskan di dunia milik berdua. Tampaknya mereka punya masalah yang… …whoa! Saya hampir saja jadi biang gosip. Tidak bisa, tidak bisa. Apa yang terjadi di kafe saya, tidak boleh keluar dari kafe saya.

Yang bisa saya ceritakan tentang Lua, adalah bahwa minuman yang saya racik tidak berhasil memuaskannya. Bukan berarti tidak enak, hanya saja mungkin saya bersikap terlalu sok tahu. Bisa saja saya memberikan cokelat panas biasa dan itu sudah cukup membuat Lua senang. Tapi harga diri sebagai barista mendorong saya untuk sedikit kreatif lalu menambahkan terlalu banyak kayu manis. Mudah-mudahan itu tidak cukup untuk membuatnya kapok mampir.

Coffee Talk | Screenshot 5

Coffee Talk | Screenshot 6

Hmm? Tak terasa, sudah begini larut rupanya. Saya harus segera kembali ke kafe dan bersiap-siap buka. Di hari kerja begini biasanya pelanggan tak banyak, tapi ada, dan saya tak mau ada orang yang kehilangan tempat tenang favorit mereka. Lagi pula kafe saya masih cukup berantakan. Bila tidak dibereskan dari sekarang, bisa-bisa nanti saya harus menyambut tamu dalam kondisi yang kurang layak.

Ini alamat kafe saya. Kamu pun, bila ada waktu senggang, jangan ragu-ragu untuk datang. Saya akan menunggu.

RelatedPost